DPRD Mura

Stop Bullying, Wakil Ketua DPRD Edukasi Pelajar Tentang Risiko Jangka Panjang

171
×

Stop Bullying, Wakil Ketua DPRD Edukasi Pelajar Tentang Risiko Jangka Panjang

Sebarkan artikel ini

Newskalteng.com, Puruk Cahu – Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Kabupaten Murung Raya (Mura) menunjukkan komitmen kuatnya terhadap perlindungan anak dengan menggelar sosialisasi “Stop Bullying” di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Murung pada Jumat (19/7/2025).

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran para pelajar tentang bahaya perundungan (bullying) yang sering terjadi di lingkungan sekolah dan dampaknya yang bisa merusak masa depan anak.

Ketua Forum PUSPA Mura, Dina Maulidah—yang juga merupakan Wakil Ketua I DPRD Murung Raya—menegaskan pentingnya masalah ini. Dina mengingatkan bahwa bullying tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat mengganggu proses belajar dan tumbuh kembang anak.

“Bullying seringkali dianggap sepele, padahal dampaknya bisa jangka panjang,” ujar Dina. Ia menambahkan bahwa tidak ada ruang untuk perundungan di lingkungan sekolah dan semua anak berhak merasa aman serta dihargai. Dampak yang diuraikan termasuk gangguan kecemasan, depresi, penurunan prestasi, hingga risiko fatal seperti pemikiran untuk bunuh diri.

Dalam sosialisasi yang dikemas interaktif, Dina Maulidah menjelaskan secara rinci lima jenis bullying: Fisik, Verbal, Sosial/Relasional, Siber (Cyberbullying), dan Psikologis/Emosional. Siswa diajak untuk mampu mengidentifikasi semua bentuk perundungan tersebut.

Untuk melawan fenomena ini, Srikandi DPRD Mura tersebut mengajak siswa untuk tidak tinggal diam. Ia memaparkan enam langkah penting, termasuk segera melapor kepada orang dewasa yang dipercaya, berani berkata “tidak”, bersikap asertif, membentuk kelompok pertemanan positif, jangan jadi penonton yang diam, dan menggunakan media sosial secara bijak.

“Forum PUSPA menekankan pentingnya komunikasi yang sehat, empati, serta keberanian untuk melaporkan tindakan perundungan,” tutup Dina Maulidah. Ia menegaskan bahwa menciptakan lingkungan belajar yang sehat secara emosional dan sosial adalah tanggung jawab bersama seluruh komponen sekolah. (*)